Senin, 03 Maret 2014

Makalah Asam Basa

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Asam dan basa merupakan sesuatu yang tidak asing lagi dalam kehidupan kita sehari. Banyak barang yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari termasuk ke dalam contoh asam dan basa. Seperti buah-buahan, sayur-sayuran, bahan industri, dan lain sebagainya.

Asam dan basa ini juga merupakan materi yang wajib dipelajari bagi mahasiswa Teknik Lingkungan. Dalam pembelajarannya diberikan tugas dari dosen kepada mahasiswa-nya yang berupa makalah mengenai Asam dan Basa.

Oleh karena itu, makalah ini dibuat untuk memenuhi kewajiban dan amanah yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswa-nya.

B. Tujuan dan Manfaat

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa mengetahui dan bisa mendalami ilmu mengenai asam dan basa.


 



















BAB II
PEMBAHASAN

Sekitar tahun 1800, banyak kimiawan Prancis termasuk Antoine Lavoisier secara keliru berkeyakinan bahwa semua asam mengandung oksigen. Lavoisier mendefinisikan asam sebagai zat mengandung oksigen karena pengetahuannya akan asam kuat hanya terbatas pada asam-asam okso dan karena is tidak mengetahui komposisi sesungguhnya dari asamasam halida, HCI, HBr, dan HI.
 Lavoisier-lah yang memberi nama oksigen dari dua kata bahasa Yunani yaitu oxus (asam) dan gennan (menghasilkan) yang berarti “penghasil/pembentuk asam”. Setelah unsur klorin, bromin, dan iodin teridentifikasi dan ketiadaan oksigen dalam asam – asam halida ditemukan oleh Sir Humphry Davy pada tahun 1810, definisi oleh Lavoisier tersebut kemudian ditinggalkan. Kimiawan Inggris pada waktu itu, termasuk Humphry Davy berkeyakinan bahwa semua asam mengandung hidrogen. Setelah itu pada tahun 1884, ahli kimia Swedia yang bernama Svante August Arrhenius dengan menggunakan landasan ini, mengemukakan teori ion dan kemudian merumuskan pengertian asam.
Basa dapat dikatakan sebagai lawan dari asam. Jika asam dicampur dengan basa, maka kedua zat itu saling menetralkan sehingga sifat asam dan basa dihilangkan.

A. TEORI ASAM-BASA

            1. Teori Asam-Basa Arrhenius
                        Menurut Arrhenius (dikutip dari Harnanto, 2009:139) “asam adalah zat yang          dalam air dapat menghasilkan ion hidrogen (atau ion hidronium, H3O+) sehingga dapat        meningkatkan konsentrasi ion hidronium (H3O+). Sedangkan, basa  adalah zat yang     dalam air dapat menghasilkan ion hidroksida sehingga dapat meningkatkan konsentrasi       ion hidroksida.

Contoh Asam:


            Contoh Basa:


            Reaksi keseluruhannya :

            Secara umum :


            Konsep asam basa Arrhenius terbatas hanya pada larutan air, sehingga tidak dapat             diterapkan pada larutan non-air, fasa gas dan fasa padatan dimana tidak ada H+ dan             OH-.

            2. Teori BrΦnsted dan Lowry
Asam adalah zat yang mendonorkan proton (H+) pada zat lain dan basa adalah zat             yang dapat menerima proton (H+) dari zat lain. Bronsted dan Lowry (dalam Harnanto,             2009:140)
            Berdasarkan teori ini, reaksi antara gas HCl dan NH3 dapat dijelaskan sebagai reaksi          asam basa, yakni:
            HCl(g) + NH3(g) →NH4Cl(s)
            Simbol (g) dan (s) menyatakan zat berwujud gas dan padat. Hidrogen khlorida      mendonorkan proton pada amonia dan berperan sebagai asam. Arrhenius (dalam           Ghufron,2011:1)
                        Menurut teori BrΦnsted dan Lowry (dikutip dari Harnanto,2009:142) zat dapat     berperan baik sebagai asam maupun basa. Bila zat tertentu lebih mudah melepas   proton, zat ini akan berperan sebagai asam dan lawannya sebagai basa. Sebaliknya,    bila zuatu zat lebih mudah menerima proton, zat ini akan berperan sebagai basa.

            Dalam suatu larutan asam dalam air, air berperan sebagai basa.
            HCl + H2O → Cl + H3O+
            asam1+basa 2 → basa konjugat1+asam konjugat2

            Basa konjugat dari suatu asam adalah spesi yang terbentuk ketika satu proton pindah         dari asam tersebut.
            Asam konjugat dari suatu basa adalah spesi yang terbentuk ketika satu proton        ditambahkan ke basa tersebut.
            Dalam reaksi di atas, perbedaan antara HCl dan Cl– adalah sebuah proton, dan      perubahan antar keduanya adalah reversibel. Hubungan seperti ini disebut hubungan            konjugat, dan pasangan HCl dan Cl– juga disebut sebagai pasangan asam-basa   konjugat.
            Larutan dalam air ion CO3 2– bersifat basa. Dalam reaksi antara ion CO32– dan        H2O, yang pertama berperan sebagai basa dan yang kedua sebagai asam dan keduanya            membentuk pasangan asam basa konjugat.
            H2O + CO32– → OH + HCO3–
            asam1+basa 2 → basa konjugat1+asam konjugat2
            Zat disebut sebagai amfoter bila zat ini dapat berperan sebagai asam atau basa. Air             adalah zat amfoter. Reaksi antara dua molekul air menghasilkan ion hidronium dan ion hidroksida
            Air adalah contoh reaksi zat amfoter
            H2O + H2O → OH + H3O+
            asam1+basa 2 → basa konjugat1+asam konjugat2

            3. Teori Asam dan Basa Menurut Lewis

                        Asam adalah akseptor pasangan electron sedangkan basa adalah donor       pasangan elektron. Lewis (dalam Harnanto, 2009:143). Perkembangan selanjutnya      adalah konsep asam-basa Lewis, zat dikatakan sebagai asam karena zat tersebut dapat           menerima pasangan elektron bebas dan sebaliknya dikatakan sebagai basa jika dapat   menyumbangkan pasangan elektron. Konsep asam basa ini sangat membantu dalam           menjelaskan reaksi organik dan reaksi pembentukan senyawa kompleks yang tidak       melibatkan ion hidrogen maupun proton. Reaksi antara BF3 dengan NH3, dimana       molekul NH3 memiliki pasangan elektron bebas, sedangkan molekul BF3 kekurangan      pasangan elektron
B.  Kekuatan Asam dan Basa
Menurut GhPada dasarnya skala/tingkat keasaman suatu larutan bergantung pada konsentrasi ion H+ dalam larutan. Makin besar konsentrasi ion H+ makin asam larutan tersebut. Umumnya konsentrasi ion H+ sangat kecil, sehingga untuk menyederhanakan penulisan, seorang kimiawan dari Denmark bernama Sorrensen mengusulkan konsep pH untuk menyatakan konsentrasi ion H+. Nilai pH sama dengan negatif logaritma konsentrasi ion H+ dan secara matematika diungkapkan dengan persamaan :

1.      Derajat keasaman (pH) 


Untuk air murni pada temperatur 25 °C :
[H+] = [OH-] = 10-7 mol/L
Sehingga pH air murni = – log 10-7 = 7.
 Jika pH = 7, maka  larutan bersifat netral
Jika pH < 7, maka larutan bersifat asam
Jika pH > 7, maka larutan bersifat basa
Pada temperatur kamar : pKw = pH + pOH = 14

2.      Asam Kuat 
Disebut asam kuat karena zat terlarut dalam larutan ini mengion seluruhnya (α = 1). Untuk menyatakan derajat  keasamannya, dapat ditentukan langsung dari konsentrasi asamnya dengan melihat valensinya.

3. Asam Lemah 
Disebut asam lemah karena zat terlarut dalam larutan ini tidak mengion seluruhnya,    α ≠ 1, (0 < α < 1). Penentuan besarnya derajat keasaman tidak dapat ditentukan langsung dari konsentrasi asam lemahnya (seperti halnya asam kuat). Penghitungan derajat keasaman dilakukan dengan menghitung konsentrasi [H+] terlebih dahulu dengan rumus

di mana, Ca = konsentrasi asam lemah
Ka = tetapan ionisasi asam lemah

4. Basa Kuat 
Disebut basa kuat karena zat terlarut dalam larutan ini mengion seluruhnya (α = 1). Pada penentuan derajat keasaman dari larutan basa terlebih dulu dihitung nilai pOH dari konsentrasi basanya.

5. Basa lemah 
Disebut basa lemah karena zat terlarut dalam larutan ini tidak mengion seluruhnya,    α  ≠ 1, (0 <  α < 1). Penentuan besarnya konsentrasi OH- tidak dapat ditentukan langsung dari konsentrasi basa lemahnya (seperti halnya basa kuat), akan tetapi harus dihitung dengan menggunakan rumus : 



di mana, Cb = konsentrasi basa lemah
Kb = tetapan ionisasi basa lemah




D. Asam dan Basa dalam Kehidupan
Beberapa Asam dan Basa Yang Telah Dikenal:


Asam merupakan kebutuhan industri yang vital. Empat macam asam yang paling penting dalam industri adalah asam sulfat, asam fosfat, asam nitrat dan asam klorida. Asam sulfat (H2SO4) merupakan cairan kental menyerupai oli. Umumnya asam sulfat digunakan dalam pembuatan pupuk, pengilangan minyak, pabrik baja, pabrik plastik, obat-obatan, pewarna, dan untuk pembuatan asam lainnya. Asam fosfat (H3PO4) digunakan untuk pembuatan pupuk dan deterjen. Namun, sangat  disayangkan bahwa fosfat dapat menyebabkan masalah pencemaran di danau-danau dan aliran sungai.
Asam nitrat (HNO3) banyak digunakan untuk pembuatan bahan peledak dan pupuk. Asam nitrat pekat merupakan cairan tidak berwarna yang dapat mengakibatkan luka bakar pada kulit manusia. Asam klorida (HCl) adalah gas yang tidak berwarna yang dilarutkan dalam air. Asap HCl  dan ion-ionnya yang terbentuk dalam larutan, keduanya berbahaya bagi jaringan tubuh manusia.
Dalam keadaan murni, pada umumnya basa berupa kristal padat. Beberapa produk rumah tangga yang mengandung basa, antara lain deodorant, antasid, dan sabun. Basa yang digunakan secara luas adalah kalsium hidroksida, Ca(OH)2 yang umumnya disebut soda kaustik suatu basa yang berupa  tepung kristal putih yang mudah larut dalam air. Basa yang paling banyak digunakan adalah amoniak. Amoniak merupakan gas tidak berwarna dengan bau yang sangat menyengat,  sehingga sangat mengganggu saluran pernafasan dan paru-paru bila gas terhirup. Amoniak digunakan sebagai pupuk, serta bahan pembuatan rayon, nilon dan asam nitrat.


 
BAB III
KESIMPULAN

Asam dalam pelajaran kimia adalah senyawa kimia yang bila dilarutkan dalam air akan menghasilkan larutan dengan pH lebih kecil dari 7. Dalam definisi modern, asam adalah suatu zat yang dapat memberi proton (ion H+) kepada zat lain (yang disebut basa), atau dapat menerima pasangan elektron bebas dari suatu basa. Asam terbagi atas dua maca yaitu asam kuat dan asam lemah. Asam mempunyai rasa asam dan bersifat korosif.
Basa adalah senyawa kimia yang menyerap ion hydronium ketika dilarutkan dalam air. Basa memiliki pH lebih besar dari 7. Seperti hal-nya asam, basa juga terbagi dua macam yaitu basa kuat dan basa lemah.
Basa mempunyai rasa pahit dan merusak kulit, terasa licin seperti sabun bila terkena kulit. Dan dapat menetralkan asam.
Jika pH = 7, maka  larutan bersifat netral. Jika pH < 7, maka larutan bersifat asam. Jika pH > 7, maka larutan bersifat basa.


DAFTAR PUSTAKA

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_xi/kekuatan-asam-dan-basa/
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_dasar/asam_dan_basa/konsep-ph-poh-dan-pkw/
http://www.smkn1bandung.com/modul/adaptip/adaptif_kimia/larutan_asam_dan_basa.pdf
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_dasar/asam_dan_basa/sifat-sifat-asam-basa-dan-garam/















 






D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
Kelompok II    :       1.Dwi oktariana    
2.Marya ulfa sari
3.Lesi yulisma
4.Elva Zuhaira
5.Irfan Rahmat jianto
6.Putri Lestari
Prody             :       T. Analisis Laboratorium Migas
Pembimbing  :       Lety Trisnaliani, ST. MT





POLITEKNIK  AKAMIGAS  PALEMBANG

2012 - 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar